Mengenal "Uduk Byar", Tradisi Tolak Bala' Di Dukuh Sukosari Desa Kapura
- Aug 03, 2024
- Muhamad Masduqi Mahfudz
Salah satu budaya lokal yang ada di Desa Kapuran adalah Uduk Byar. Uduk Byar sendiri merupakan sebuah tradisi yang dilakukan warga Dukuh Sukosari, Desa Kapuran setiap Jumat Legi bulan Muharram. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud tolak balak warga Dukuh Sukosari agar terhindar dari mara bahaya.
Konon pada zaman dahulu di Dusun Sukosari, Desa Kapuran, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo,masyarakat Dusun Sukosari selalu mendapat gangguan dari makhluk halus penunggu dusun tersebut. Bahkan ada masyarakat yang diganggu sampai ia meninggal. Hal tersebut membuat masyarakat Sukosari resah dan dihantui rasa ketakutan. Pada saat itu datang seorang pengembara bernama Ki Yangmidin. Ki Yangmidin tahu bahwa masyarakat dusun Sukosari sedang mengalami ketkutan karena diganggu oleh makhluk halus. Masyarakat dusun Sukosari lalu meminta pertolongan kepada Ki Yangmidin untuk mengusir makhluk halus yang sering mengganggu mereka. Kemudian Ki Yangmidin menyarankan masyarakat untuk melakukan Ritual Uduk Byar.
Ritual Uduk Byar yaitu ritual tolak-balak agar terbebas dari hal-hal negatif yang mengganggu. Ki yangmidin mengajak warga sukosari pergi ke mushola dengan membawa tumpeng dan lauk ayam. Namun tidak semua warga Sukosari yang mengikuti ritual tersebut, hanya kaum perempuan saja mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek. Pelaksanaan ritual tersebut bertepatan padaa hari Jum'at Legi bulan Muharom. Cara pelaksanaan Ritual Uduk Byar ini yaitu masyarakat berdoa bersama dengan membentuk lingkaran dan tumpeng yang mereka bawa tadi ditaruh ditengah-tengah mereka. Ritual ini dipimpin oleh 4 orang lelaki sesepuh Dusun Sukosari. Cara berdoannya tidak menengadahkan telapak tangan namun telapak tangannya di hadapkan kebawah. Selesai berdoa bersama masyarakat Dusun Sukosari pulang kerumah dengan membawa tumpeng mereka masing-masing. Ki Yangmidin menyuruh warga untuk memisahkan lauk ayam panggang tadi antara tulang dan dagingnya. Setelah dipisahkan Ki Yangmidin menyuruh masyarakat Dusun Sukosari untuk mengubur tulang-tulang tadi di empat sisi pojok rumah dan satu didepan pintu. Dan masyarakat jadi menyebut hal tersebut dengan sebutan "Teblat papat Pancer lima".
Setelah diadakannya Ritual Uduk Byar dusun Sukosari menjadi aman dan tidak ada lagi gangguan-gangguan. Ki Yangmidin juga menghimbau masyarakat dusun Sukosari agar tidak mengadakan pertunjukkan wayang. Menurutnya jika ada warga yang mengadakan pertunjukkan wayang maka salah satu anggota keluarga mereka dipastikan ada yang meninggal atau mendadak sakit. Maka dari itu sampai sekarang tidak ada warga Dusun Sukosari yang berani menggelar pertunjukkan wayang. Dan sekarang pun Ritual Uduk Byar tadi masih dilakukan oleh masyarakat Dusun Sukosari setiap tahun yaitu pada hari Jum'at Legi bulan Muharom.